Hi na, ini 3sms. :)
Pada awal perkenalanku dengannya, ia sepertinya tidak terlalu istimewa, terlalu over, atau apalah. Ternyata pada perpisahan kami nanti, aku merasa dia menjadi demikian penting. Ya, namanya Lisa. Hanya Lisa. Tak ada nama kepanjangan dalam namanya ataupun nama keluarganya. Ah aku tak ingin mempermasalahkan itu. Sebenarnya gaya bicara dan perilakunya itu yang membuatku penasaran. Aneh, dingin dan dia orang yang paling beda dari semua teman perempuan yang pernah ku kenal.

Tiba disebuah tempat malam ini
kuhabiskan bersama alunan jazz dan
blues yang lembut. Ya, tepatnya
disebuah bar di Andir. Terlihat ia duduk
sendiri dengan pandangan datar
memandangi seseorang yang sedang memainkan gitar. Pengunjung mulai
meramai suasana semakin hangat,
sementara dia masih saja bergeming
dikursinya.

Aku bangun dari dudukku. Sebenarnya
obrolan dengan Simon dan Mutia sangat menyenangkan. Mereka bercerita banyak dengan investasi yang kerap jadi obrolan penting mereka. Namun pikiranku mendadak tidak singkron setelah melihat sosok perempuan itu. Ah, kutinggalkan saja mereka. Koco Hernandez dan Aris masih bisa menemani.
Matanya masih tertuju ke arah pemain
gitar asal mexico itu ketika aku menduduki kursi yang ada di
sebelahnya. Ia tak melirik. Mungkin
kedatanganku tak mengganggunya.

"Apa kau ingin menambah minummu,
Nona?"

Ia langsung menoleh saat aku berbicara setengah berteriak disampingnya, melawan hentakan musik yang harmoni di dalam bar. Beberapa inci detik kemudian, ia mengalihkan matanya pada gelas di tangannya. Gelas itu sudah kosong.

"Boleh,"

Suaranya terdengar begitu sadis. Terlalu sadis untuk ukuran merdu. Aku
mendekatkan kursiku. Kulambaikan
tangan pada bartender. Gelas itu kembali terisi.
Bartender itupun menuangkan brendi untukku.

"Siapa namamu?"
"Lisa,"

Ia menyahut dan kembali menatap ke
arah gitaris Mexico dan pengunjung bar yang semakin meliuk-liukan badannya, mengikuti irama musik yang menyentak seiring malam merangkak.

"Saya Adit," aku menyebut namaku walau ia tak bertanya.

Beberapa menit kami terdiam. Aku sedikit kebingungan untuk memulai percakapan kembali. Matanya yang biru begitu fokus tertuju ke arah para pemain musik dan pengunjung bar yang semakin memenuhi lantai untuk menari.

Tak ada yang istimewa dari sosoknya. Ia seperti perempuan Eropa pada
umumnya. Rambut pirang, mata biru,
kulit pucat, tinggi yang semampai, bibir tipis dengan mulut mungil. Hanya saja pakaiannya itu tidak signifikan untuk pengunjung sebuah bar di Bandung. Ah, apakah aku terlalu berlebihan?

"Apa kau berasal dari Eropa?" aku ingin menyebutkan salah satu kota tapi kuurungkan.

"Ya, Los Morales ."

Aku meneguk sedikit brendi yang ada digelasku. Sebenarnya, aku bukan peminum alkohol yang baik. Aku
gampang sekali mabuk dan bila mabuk, biasanya racauanku akan sedikit tidak valid. Tentu aku tak ingin terlihat demikian konyol di depannya.

"Aku suka menari. Sayangnya, aku tak
punya teman untuk turun ke lantai
sana,"

Kulirik ia lewat mata sayuku. Ia
masih dengan posisi seperti semula
ketika aku duduk disebelahnya.

"Aku penari yang buruk." Ia meminum
lebih dari setengah isi gelasnya.

"Di bar seperti ini, tak akan ada yang
peduli. Apa tarian kita buruk atau
bagus?"

Ia menatapku. Tajam. Entahlah, aku
merasa tatapan matanya itu terlalu
misterius. Dingin. Menusuk. Namun
diwaktu bersamaan seperti ada kobaran api di dalam retinanya. Seperti sebuah gairah. Berkobar-kobar. Dan ia terlihat berusaha menikamnya.

"Di kotaku tidak seperti itu," Ia kembali menyahut, lalu menghabiskan isi gelasnya.

Aku kembali melambaikan
tangan pada bartender yang stachun
dibalik meja, pria itu kembali mengisi
gelas Lisa.

"Mereka akan melemparimu dengan
tomat bila kau menari dengan buruk,"
ia terkekeh.

Tawanya terdengar begitu satir di
telingaku.

"Benarkah?" aku mencoba terkejut. Yah, walau itu terdengar konyol.

Lemparan tomat di dalam bar? Aku tersenyum kecil,

"Dilempari tomat memang menyedihkan. Tapi, tak ada tomat di sini. Jadi kau tak usah khawatir." "Tapi
banyak gelas dan botol,"
tukasku cepat.

Aku sunyi. Ia pun diam. Mata birunya
kembali tertuju pada pengunjung bar
yang semakin ramai memenuhi lantai
untuk menari. Kursi-kursi sudah kosong. Bahkan Simon, Mutia, Aris, dan Koco sudah berselancar dengan mereka, menggoyangkan badan mengikuti irama musik.

Aku semakin yakin, kalau mata
itu sedikit berkobar-kobar. Seolah ada
api yang membakar di dalam sana.
Timbul-tenggelam. Sepertinya, ia tengah berusaha melawan sesuatu yang dikehendaki nalurinya.

"Aku pun penari yang buruk.
Tapi aku suka menari." Ia menoleh
padaku.

Sekilas, beberapa menit mata kami
bertaut. Lalu ia terburu membawa
matanya kembali ke arah kerumunan
pengunjung bar yang sudah dirasuki
musik.

"Mengapa kau belum pulang selarut ini?" ia berkata tanpa menoleh padaku,

"Pasti istrimu menunggu dengan
cemas."

"Aku masih lajang," jawabku cepat.

Lagi, ia menoleh. Matanya sedikit menukik, retina itu menatap sangsi. Pengurat-gurat diwajahnya yang terlihat pucat. Ada seringai ejekan di wajahnya.

"Tak di Huck's atau pun Pin cloud 9,
lelaki pandai sekali berdusta."

Aku melipat kening mendengar kata-
katanya itu. Sedikit tak paham. Huck's.
Kupikir itu pasti nama bar yang ada di
kotanya, bar yang kerap ia kunjungi.

"Aku jujur," kembali kuteguk sedikit
isi gelasku.

"Sudah berapa banyak perempuan yang percaya? Lalu mau ikut menginap
di kamar yang kau sewa?"

Aku hanya tersenyum kecil.
"Aku tak mengajakmu untuk menginap
di kamarku malam ini. Aku hanya ingin
mengajakmu menari. Menikmati malam di Bandung dan bercerita tentang festival tahunan ini."

"Mereka itu akan memberiku bunga dan gumpalan emas setiap aku menari. Apa kau bisa memberiku hal
itu?"

"Ini bukan Eropa, Lisa," aku meminum hingga tandas isi gelasku, bukan pula Huck's, apalagi tempat para penambang, matador, atau pun suku viking. Ini Andir. Jadi aku hanya bisa memberikan keramahan padamu."

Ia tersenyum. Jemarinya yang lenting meletakan gelas kosongnya ke atas meja bartender. Ia mengulurkan tangan padaku. Aku tergesa menaruh gelasku di atas meja lalu menyambut uluran tangannya.

Suara gitaris dan penyanyi itu terdengar semakin merdu di telingaku. Irama musik yang ingar membuat aku begitu bersemangat. Dan kulihat kobaran di retina Lisa semakin menyala-nyala.

* * *

AKU sedikit terkejut ketika Lisa mulai
menari. Kupikir, ia sedikit benar:
Tariannya sangat buruk. Mungkin itu juga alasannya tak ingin kuajak menari di tengah kerumunan pengunjung bar. Ia memilih mengajakku menari di pojokan bar, bahkan nyaris di lorong toilet.

"Tarianmu membuat dadaku sesak."aku membisikan kata-kata itu di telinganya. Wajah pucat Lisa sedikit kemerahan.

"Mereka menyebutnya tari laba- laba." Ah, nama itu memang pas untuk tarian yang baru saja Lisa perlihatkan padaku.

Ia menari seolah-olah banyak laba-laba besar sedang merambati badannya. Dan ia berusaha sekuat tenaga membuat laba-laba itu agar terlepas dari tubuhnya. Berguncang-guncang. Mengacak-acak tangan ke badan. Aku nyaris pingsan melihatnya tadi. Dadaku seakan hendak meledak.

"Para penambang emas sangat
menyukai tarianku itu walau buruk,"
ceritanya tanpa diminta.
Aku kembali berkernyit. Ceritanya sedikit tak kupahami.

"Itu tarian buruk. Aku tak bisa menari
tapi aku perlu uang untuk hidup. Los
Morales terlalu kejam untuk perempuan lajang sepertiku yang tak
punya keahlian apa-apa. Sayangnya
gara-gara tarian itu aku dibenci oleh istri para penambang. Bukan salahku. Salah suami mereka yang mata keranjang."

"Aku masih lajang," ucapku untuk
kesekian kalinya.

Ia tak berkata apa-apa, melangkah
tergesa menuju bartender, memesan
segelas minuman, lalu meneguknya
hingga tandas. Setelah itu ia terburu
menuju pintu keluar bar. Aku segera
meletakan beberapa lembar uang di atas meja bartender lalu menyusulnya.

"Ini belum pagi untuk pulang,"
ucapku sambil menyajarkan langkah.

"Aku tak ingin kena sinar matahari.
Kulitku akan terbakar. " Aku menatap jam di pergelangan tanganku, masih jam empat subuh.

"Kau seperti perempuan vampir yang
tak ingin kena sinar matahari." Ia menghentikan langkahnya. Aku pun
berhenti.

"Apa kau percaya adanya vampir?"
mata birunya menatapku lekat. Aku mengangkat sedikit pundakku.

"Ya, aku suka cerita gothic. Dan aku
sering menulis dan membaca hal-hal
yang berbau misteri" jawabku cepat.

"Aku bukan bagian dari dunia ini lagi"
ucap lisa. Aku membatu. Menatapnya dengan pandangan tak percaya. Entah, aku tak tahu harus berkata apa padanya.

"Aku harus segera pergi. Tak usah
berbaik hati mengantarku," ia tergesa
berbalik,

"Oya, nama panjangku Elizabeth Adelina Ajazhtha . Mungkin kau ingin tahu. Aku datang dari masa lalu dan
satu lagi, aku tak akan melupakanmu."

Ia menghilang di balik kegelapan malam. Aku terpaku di depan pintu masuk gerbang Andir. Rasanya pertemuan ini terlalu ganjil. Juga obrolan kami. Apa ia tengah bergurau? Atau aku yang kelewat banyak meneguk brendi hingga sedikit mabuk. Entahlah.

SEPERTI yang kukatakan di muka. Awalnya aku tak terlalu peduli dengan
nama belakangnya. Namun ketika ia
bercerita yang sedikit ganjil bagiku, aku merasa nama itu cukup penting. Ia secara tersirat mengatakan padaku, kalau ia berasal dari ratusan tahun lalu. Aku tak ingin peduli. Kuanggap saja aku tengah mabuk dan tak fokus dengan ceritanya. Tapi aku tak bisa menguasai rasa penasaranku. Ya, mungkin hanya sampai disini saja dan sepertinya aku harus istirahat sekarang.

NB : Ini cerpen :)

XtGem Forum catalog